KULIAH PAKAR TENTANG PSIKOTERAPI ISLAM
Written by Robit Sanusi   
Sunday, 02 April 2017

 Program Studi Magister Psikologi Profesi Universitas Islam Indonesia selalu berupaya menghadirkan pakar-pakar psikoterapi Islam terbaik dari mancanegara maupun Indonesia sendiri. Untuk itu, Program Studi Magister Psikologi Profesi Universitas Islam Indonesia (MAPPRO UII) menyelenggarakan kuliah pakar bersama salah satu guru besar Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia (UPSI) yaitu Professor  Dr. Rahmatullah Khan Abd.Wahab Khan. Kuliah berlangsung selama tiga hari pada tanggal 24, 25, 26 Maret 2017 di gedung perkuliahan Dr. Soekiman Wirosandjojo Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia. Prof. Dr. Rahmatullah khan merupakan pakar dalam bidang psikologi klinis dan psikologi Islam. Beliau mengembangakan bentuk Cognitive Behavioral Theraphy (CBT) menjadi Islamic-Integrated Cognitif Behavioral theraphy (ICBT) sebagai bentuk terapi Islam untuk penyembuhan masalah gangguan psikologis.

Menurut Khan, perkembangan ilmu psikologi terus dikembangkan sejalan dengan perkembangan manusia di masa ini. Berdasarkan kacamata ilmu psikologi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara umum tentu memberikan dampak positif, namun tidak menutup mata bahwa teknologi juga membawa dampak negatif pada manusia. Salah satu dampaknya, manusia menjadi lebih tergantung pada teknologi, sehingga muncul perilaku ketergantungan yang menimbulkan perilaku maladaptif. Beberapa perilaku maladaptif yang sedang populer dewasa ini adalah Internet adiction Disorder (IAD) atau kecanduan berlebihan pada jaringan internet, dan nomophobia atau rasa cemas akibat dari ketergantungan pada ponsel yang dimiliki. Perkembangan zaman berarti juga bertambahnya masalah yang dihadapi manusia, dibuktikan dengan semakin banyak gangguan mental dan perilaku yang mauncul seiring dengan berkembangannya zaman. Menghadapi kondisi tersebut, tentunya para ahli psikologi perlu mengembangankan pendeketan dan metode yang muthakhir sesuai kebutuhan dari masa ke masa.

Mantan Ketua International Association of Muslim Psychology (IAMP) itu menyatakan bahwa manusia dipengaruhi oleh keyakinan (core believe), pikikran (thoughts), kemudian menghasilkan emosi (emotion) dan perilaku (behavior). Kejadian atau stimulus linkungan akan diproses pertama kali melalu alat indera, kemudian akan dilakukan proses intepretasi oleh pikiran (proses kognitif). Jika seseorang memiliki pengalaman atau hal-hal terkait kejadian/stimulus yang pernah dilalui sebelumnya dan telah menjadi keyakinan dalam diri, maka keyakinan tersebut akan menentukan interpretasi kognitif. Interpretasi kognitif akan memicu respon emosi, kemudian menghasilkan perilaku. Maka, adapun perilaku negatif manusia itu dipengaruhi oleh keyakinan yang salah (irrational believe). Keyakinan yang salah mempengaruhi cara berpikiri seseorang yang kemudian menimbulkan kesalahan dalam berpikir (distorsi kognitif).  Pola pikir negatif menghasilkan emosi negatif  dan pada akhirnya memunculkan perilaku yang maladaptif.

Keyakinan yang sudah terbentuk dalam diri individu akan memunculkan respon pikiran otomatis (automatic thoughts) secara spontan pada individu. Seperti halnya yang terjadi pada penderita phobia binatang, awalnya (pertama) mengalami atau menyaksikan kejadian tertentu dengan binatang yang ditakuti. Kemudian (kedua) meyakini bahwa bintang tersebut memang menakutkan, lalu muncul pikiran bahwa binatang tersebut membahayakan dan harus dihindari. Selanjutnya (ketiga)  muncul respon emosi cemas, dan takut terhadap binatang tersebut. Akhirnya (Keempat) perilaku yang nampak adalah lari, berteriak, menangis dan sebagainya. Pada penderita phobia tertentu, individu sudah memiliki keyakinan dan pikiran automatis tentang hal yang menjadi objek phobianya. Karena pikiran spontannya, maka reaksi yang muncul secara emosi dan perilaku juga spontan apabila bertemu dengan objek phobianya.

Konsep pemahaman ini disebut cognitive behavioral (CB) yang dikembangkan oleh ilmuan barat. Namun, sesungguhnya Islam menemukan konsep ini jauh sebelum ilmuan barat. Adalah Abu Hamid Al-Ghazali yang menemukan bahwa manusia dipengaruhi oleh  pikiran, perasaan, dan perilaku. Pikiran adalah perpaduan dari keyakinan dalam hati (qalbu), keyakinan dalam hati diperoleh berdasarkan pengalaman, ilmu pengetahuan, dan goal setting. Perpaduan qalbu dengan stimulus yang diterima, kemudian diproses menjadi pola pikir, perasaan dan perilaku. Pandangan islam tentang keyakinan terhadap sang pencita Allah SWT beserta ajaranNya yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., merupakan keyakinan yang harus dimiliki oleh setiap umat islam untuk merespon berbagai peristiwa/stimulus lingkungan. Hal tersebut dimaksudkan agar manusia terhidar dari perilaku maladaptif. Oleh karenanya muncullah terapi kognitif perilaku (CBT) menggunakan pendekatan Islam (ICBT) dengan konsep the quranic hope drive, salat consitency,dan  prophetic self talk.  Pendekatan ICBT dimaksudkan untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya yaitu bertaqwa kepada Allah SWT. Jika seseorang sudah memiliki keyakinan dan ketakwaan pada Allah maka kehidupan akan direspon secara positif dan tentunya mengurangi gangguan-gangguan psikologis yang dialam oleh manusia.

Oleh karena itu Program Studi Magister Psikologi Profesi Universitas Islam Indonesia (MAPPRO UII) yang dibangun di atas  fonadasi islam Al-Qur’an dan hadits berupaya untuk mengembangakan dan mengaplikasikan konsep pendekatan islam guna kemaslahatan masyarakat pada umumnya. Konsep pendekatan islam diharapkan mampu menjadi solusi atas problem gangguan psikologis yang terjadi dewasa ini. Harapannya para alumni UII mampu memberikan kotribusi positif dan ketakwaan di masyarakat seperti tujuan UII yaitu “rahmatan lil ‘alamin” (bermanfaat bagi alam semesta).

 

Daftar Pustaka

Olagoke, M. S. & Khan, R. (2017). Islamic-Integrated Cognitive Behavioural Therapy. Publication. Departemen of Psychology & Counseling Faculty of Education & Human Development Sultan Idris Education University. Tanjong Malim, Perak, Malaysia.

 

Menurut Khan, perkembangan ilmu psikologi terus dikembangkan sejalan dengan perkembangan manusia di masa ini. Berdasarkan kacamata ilmu psikologi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara umum tentu memberikan dampak positif, namun tidak menutup mata bahwa teknologi juga membawa dampak negatif pada manusia. Salah satu dampaknya, manusia menjadi lebih tergantung pada teknologi, sehingga muncul perilaku ketergantungan yang menimbulkan perilaku maladaptif. Beberapa perilaku maladaptif yang sedang populer dewasa ini adalah Internet adiction Disorder (IAD) atau kecanduan berlebihan pada jaringan internet, dan nomophobia atau rasa cemas akibat dari ketergantungan pada ponsel yang dimiliki. Perkembangan zaman berarti juga bertambahnya masalah yang dihadapi manusia, dibuktikan dengan semakin banyak gangguan mental dan perilaku yang mauncul seiring dengan berkembangannya zaman. Menghadapi kondisi tersebut, tentunya para ahli psikologi perlu mengembangankan pendeketan dan metode yang muthakhir sesuai kebutuhan dari masa ke masa.

Mantan Ketua International Association of Muslim Psychology (IAMP) itu menyatakan bahwa manusia dipengaruhi oleh keyakinan (core believe), pikikran (thoughts), kemudian menghasilkan emosi (emotion) dan perilaku (behavior). Kejadian atau stimulus linkungan akan diproses pertama kali melalu alat indera, kemudian akan dilakukan proses intepretasi oleh pikiran (proses kognitif). Jika seseorang memiliki pengalaman atau hal-hal terkait kejadian/stimulus yang pernah dilalui sebelumnya dan telah menjadi keyakinan dalam diri, maka keyakinan tersebut akan menentukan interpretasi kognitif. Interpretasi kognitif akan memicu respon emosi, kemudian menghasilkan perilaku. Maka, adapun perilaku negatif manusia itu dipengaruhi oleh keyakinan yang salah (irrational believe). Keyakinan yang salah mempengaruhi cara berpikiri seseorang yang kemudian menimbulkan kesalahan dalam berpikir (distorsi kognitif).  Pola pikir negatif menghasilkan emosi negatif  dan pada akhirnya memunculkan perilaku yang maladaptif.

Keyakinan yang sudah terbentuk dalam diri individu akan memunculkan respon pikiran otomatis (automatic thoughts) secara spontan pada individu. Seperti halnya yang terjadi pada penderita phobia binatang, awalnya (pertama) mengalami atau menyaksikan kejadian tertentu dengan binatang yang ditakuti. Kemudian (kedua) meyakini bahwa bintang tersebut memang menakutkan, lalu muncul pikiran bahwa binatang tersebut membahayakan dan harus dihindari. Selanjutnya (ketiga)  muncul respon emosi cemas, dan takut terhadap binatang tersebut. Akhirnya (Keempat) perilaku yang nampak adalah lari, berteriak, menangis dan sebagainya. Pada penderita phobia tertentu, individu sudah memiliki keyakinan dan pikiran automatis tentang hal yang menjadi objek phobianya. Karena pikiran spontannya, maka reaksi yang muncul secara emosi dan perilaku juga spontan apabila bertemu dengan objek phobianya.

Konsep pemahaman ini disebut cognitive behavioral (CB) yang dikembangkan oleh ilmuan barat. Namun, sesungguhnya Islam menemukan konsep ini jauh sebelum ilmuan barat. Adalah Abu Hamid Al-Ghazali yang menemukan bahwa manusia dipengaruhi oleh  pikiran, perasaan, dan perilaku. Pikiran adalah perpaduan dari keyakinan dalam hati (qalbu), keyakinan dalam hati diperoleh berdasarkan pengalaman, ilmu pengetahuan, dan goal setting. Perpaduan qalbu dengan stimulus yang diterima, kemudian diproses menjadi pola pikir, perasaan dan perilaku. Pandangan islam tentang keyakinan terhadap sang pencita Allah SWT beserta ajaranNya yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., merupakan keyakinan yang harus dimiliki oleh setiap umat islam untuk merespon berbagai peristiwa/stimulus lingkungan. Hal tersebut dimaksudkan agar manusia terhidar dari perilaku maladaptif. Oleh karenanya muncullah terapi kognitif perilaku (CBT) menggunakan pendekatan Islam (ICBT) dengan konsep the quranic hope drive, salat consitency,dan  prophetic self talk.  Pendekatan ICBT dimaksudkan untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya yaitu bertaqwa kepada Allah SWT. Jika seseorang sudah memiliki keyakinan dan ketakwaan pada Allah maka kehidupan akan direspon secara positif dan tentunya mengurangi gangguan-gangguan psikologis yang dialam oleh manusia.

Oleh karena itu Program Studi Magister Psikologi Profesi Universitas Islam Indonesia (MAPPRO UII) yang dibangun di atas  fonadasi islam Al-Qur’an dan hadits berupaya untuk mengembangakan dan mengaplikasikan konsep pendekatan islam guna kemaslahatan masyarakat pada umumnya. Konsep pendekatan islam diharapkan mampu menjadi solusi atas problem gangguan psikologis yang terjadi dewasa ini. Harapannya para alumni UII mampu memberikan kotribusi positif dan ketakwaan di masyarakat seperti tujuan UII yaitu “rahmatan lil ‘alamin” (bermanfaat bagi alam semesta).

 

Daftar Pustaka

Olagoke, M. S. & Khan, R. (2017). Islamic-Integrated Cognitive Behavioural Therapy. Publication. Departemen of Psychology & Counseling Faculty of Education & Human Development Sultan Idris Education University. Tanjong Malim, Perak, Malaysia.

 

Last Updated ( Sunday, 02 April 2017 )