Magister Psikologi UII

You are here: HOME
PERAN PSIKOLOGI TERHADAP PROBLEM PERNIKAHAN Print E-mail
Written by Robit Sanusi   
Monday, 03 April 2017

PERAN PSIKOLOGI TERHADAP PROBLEM PERNIKAHAN

Topik pernikahan menjadi penting untuk didiskusikan sebagai upaya untuk menemukan solusi atas masalah pernikahan. Peran ahli psikologi salah satunya adalah mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam bidangnya untuk meningkatkan kepuasan dalam pernikahan agar  menurunkan angka perceraian.  Untuk itu Jumat, tanggal 24 Maret 2017, Program Studi Magister Psikologi Profesi Universitas Islam Indonesia (MAPRRO UII) menyelenggarakan diskusi dengan tema terapi keluarga untuk menemukan gambaran apa yang semestinya dilakukan psikolog saat terjun di masyarakat dengan kasus pernikahan. Bertindak sebagai narasumber adalah Professor Dr. Rahmatullah Khan Abd. Wahab Khan, dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia. Sebanyak 43 peserta hadir dalam diskusi yang berlangsung di ruang kelas utama Program Studi Magister Psikologi Profesi UII.

Menurut Khan, pernikahan merupakan salah satu tujuan manusia sebagai bentuk tugas perkembangan di masa dewasa. Selain tugas perkembangan, pernikahan juga merupakan tugas biologis, melanjutkan keturunan sebagai bentuk regenerasi umat manusia. Agama islam menganjurkan menikah untuk pemenuhan kebutuhan diri, penjagaan diri dan mendapatkan ridho Allah karena melaksanakan anjuran Allah dan sunnah Rasulullah saw. Individu yang menikah tentunya mengrapakan kebahagiaan karena bisa hidup bersama orang yang dicintai. Terdapat berbagai kebutuhan yang dipenuhi dalam pernikahan, menurut Abraham Maslow kebutuhan manusia dibagi atas lima bagian yaitu; (1) Psychological needs, biasa disebut kebutuhan dasar seperti kebutuhan bernafas, makan-minum, tidur, seksual. (2) safety needs, kebutuhan rasa aman seperti kesehatan, keluarga, sumber penghasilan, tempat tinggal dan sebagaianya. (3) love belonging, kebutuhan kasih sayang seperti hubungan pertemanan, keluarga dan pasangan. (4) Esteem needs, kebutuhan akan rasa percaya diri, dihargai dan menghargai orang lain, pencapaian impian, kemampuan mencapai sesuatu dan kemandirian. (5) self actialization, aktualisasis diri sebagai pencapaian tertinggi manusia dalam memenuhi kebutuhan diri setelah semua kebutuhan sebelumnya terpenuhi.

Berdasarkan kebutuhan itulah manusia melakukan pernikahan, harapannya mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup. Namun pada kenyataannya, banyak individu yang kecewa terhadap pernikahannya, terjadi pertengkaran, hingga terjadi kekerasan dalam rumah tangga yang telah dibangun. Dalam satu dekade terakhir berdasarkan data populasi dunia terdapat sekikar 20% kasus konflik dalam rumah tangga. Setangah dari jumlah tersebut berakhir dengan perceraian. Dampaknya banyak terjadi kasus-kasus gangguan mental akibat gagalnya hubungan rumah tangga. Beberapa diantaranya adalah trauma pada istri yang sering dipukul oleh suaminya atau sebaliknya, trauma pada anak yang menyaksikan kekerasa antara ayah dan ibunya. Dampak dari trauma yang telah dialami bisa semakin buruk pada tahap kehidupan selanjutnya. Gejala yang terjadi pasca kejadian pada korban diforce family adalah kesulitan penyesuaian diri, harga diri rendah, self-esteem rendah dan kontrol diri yang buruk. Oleh karenya perlu strategi pencegahan dini pada calon pasangan, pasangan pernikahan dan penanganan intensif pada korban diforce family.

Mantan ketua Persatuan Psikologi Malaysia (PSIMA) itu mengungkapkan bahwa pencegahan dini merupakan upaya yang harus dikedepankan daripada pengobatan pasca diforce. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh praktisi psikolog adalah melakukan penyuluhan dan penyediaan layanan edukasi maupun pelatihan sebelum pernikahan. Edukasi dimaksudkan untuk memberi pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan setelah mejadi keluarga (tugas dan kewajiban), apa yang dilakukan jika terdapat masalah, belajar menejemen keluarga, dan belajar memahami pasangan satu sama lain. Masalah yang ada di Indonesia adalah kepedulian masyarakat yang rendah terhadap edukasi pranikah, pernikahan dini, pernikahan tidak diinginkan, dan budaya masyarakat berasas kekeluargaan dimana setiap masalah berasal dari keluarga, dan penyelesaian dari keluarga. Kondisi tersebut harus mendorong para psikolog praktisi untuk aktif terjun di masyarakat untuk melakukan intervensi pada komunitas-komunitas di masyarakat, sehingga nantinya sebagai orangtua, saudara, dan tentangga dapat memberikan edukasi pada calon pasangan suami istri. Langkah tersebut harus dilakukan guna menekan angka percaraian pasca menikah.

Masalah selanjutnya adalah proses pengobatan bagi pasangan yang berselisih atau di ujung perceraian. Banyak kasus di lapangan di beberapa tempat praktik mahasiswa ditemukan klien dengan kasus konflik rumah tangga. Pada umumnya mereka yang datang untuk mendapatkan pengobatan adalah para ibu-ibu atau istri. Berbagai kasus dilaporkan seperti kekerasan yang dilakukan suami, perselingkuhan, suami yang tidak menafkahi anak dan konflik perselisihan paham antara suami dan istri. Pada beberapa contoh kasus sebelumnya, Prof. Dr. Rahmatullah Khan memperkenalkan couple therapy sebagai bekal bagi para calon psikolog yang hendak menangani kasus konflik pasangan. Couple theraphy merupakan upaya pencegahan dan pengobatan bagi klien yang segara menikah dan sudah menikah. Terapi ini berfokus pada masalah stres rumah tangga, yang berdampak pada perilaku keluarga, kesehatan keluarga, dan kondisi buah hati (anak). Adapun tahapannya adalah memahami karaktersitik dari ketidakpuasan yang dirasakan oleh pasangan, masalah yang muncul dalam rumah tangga, kemudian menjadi target pencegahan dan penanganan untuk meningkatkan kepuasan.

Pasangan yang memiliki kepuasan pernikahan yang baik, menurut Khan banyak memiliki perilaku positif dibandingkan perilaku negatif. Pernikahan yang tidak sehat memiliki skor yang tinggi terhadap the four horsemen; cenderung defensive, critism, contempt, stonewalling. Banyak pasangan menikah memilih saling menghindar ketika mendapati masalah, hal yang demikian merupakan salah satu tanda rumah tangga yang tidak sehat. Masih banyak hal-hal yang dianggap sederhana namun ternyata menjadi sumber masalah dalam rumah tangga. Oleh karenanya ahli psikolog diharapkan sensitif dan jeli dalam menemukan true problem yang dihadapi klien. Untuk mengetahui masalah dengan efektif, maka salah satu keterampilan yang wajib dimiliki ahli psikolog adalah keterampilan yang baik dalam pengumpulan data dan analisis data. Proses penggalian masalah pada pasangan menikah dapat dilakukan berdasarkan perilaku, afek emosi, kognitif dan internal dynamic.

Setelah ahli psikolog mengetahi masalah yang dihadapi klien, maka ahli psikolog diharapkan mampu menggunakan pendekatan terapi yang tepat, sesuai karakteristik masalah klien. Pendekatan dari couple therapy juga bermacam-macam, dapat dilakukan dengan basis Behavioral Couples Therapy, Cognitive-Behavioral Couples Therapy, Integrative Behavioral Couples Therapy, Emotionally Focused Couples Therapy, Object Relations Couples Therapy, Affective Reconstruction, Brief Integrative Marital Therapy, Narrative Couples Therapy, Integrative Problem-Centered Therapy, Feminist Couple Therapy. Semua pendekatan dapat diberikan sesuai masalah yang terjadi pada pasangan menikah.

Pemberian couple theraphy  berbasis masalah yang dialami oleh klien merupakan salah satu metode yang tepat untuk meredakan konflik dalam rumah tangga. Harapannya, couple theraphy mampu mencegah perceraian dalam rumah tangga dan menangani masalah yang dialami klien dengan meningkatnya kepuasan dalam pernikahan. Akhir dari diskusi diharapkan mahasiswa memiliki gambaran yang jelas terhadap masalah dan intervensi yang harus dilakukan saat menghadapi klien dengan masalah pernikahan. Pada masa yang akan datang mahasiswa diharapkan mampu mengambil peran sebagai tenaga medis dan sosial dalam upaya pencehagan dan penanganan masalah yang terjadi di masyarakat.

Daftar Pustaka

Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian edisi revisi. Malang : UMM Press.

Santrock, J.W. (2002). Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup (edisi kelima). (Penerj. Achmad Chusairi, Juda Damanik; Ed. Herman Sinaga, Yati Sumiharti). Jakarta: Erlangga.

 

 

 

 

 

 

 
Next >
 

Login Form






Lost Password?